“Tepat sebelas bulan
yang lalu, kamu memutuskan untuk pergi dan tidak pernah menemuiku.” Desah aku
semalam dengan tulisanku. Sejak kepergianmu saat itu, kamu tidak pernah
kembali, kamu tak pernah lagi memiliki waktu untuk menemuiku, atau bahkan untuk
memberiku kabar melalui gadgetmu saja tidak pernah. Entah aku tidak mengerti, nampaknya insiden
sebelas bulan yang lalu di malam setelah aku selesai membereskan urusan SLTA
ku, sangat melukis luka hingga saat ini.
Sebelumnya, kita nampak baikbaik saja,
atau bahkan selama kita menjalin hubungan delapan bulan terlihat sangat manis,
aku masih belum mengerti dengan alasan yang tidak logis kau tiba tiba
mengatakan untuk mengakhiri kisah ini. Katanya, karena sifatku yang
kekanak-kanakan,egois,dan selalu mengaturmu. Ingatkah? Dulu kau yang menawarkan
dan mengikat sendiri rasa sayangmu, namun sekarang mengapa engkau yang begitu
mudah untuk melepaskan ikatanmu? Ikatan yang sudah kau ikat menggunakan simpul
mati, aku sulit untuk membukanya, kamu terlalu bersilau, kamu terlalu istimewa
untuk aku lupakan.
Kabarmu hanya bisa kulihat melalui akun twitter,facebook, dan
path milikmu. Mengapa kamu bisa begitu cepat untuk melepaskannya, atau memang
karena wanita-wanita sekelilingmu yang memang sangat akrab denganmu, atau
memang karena alasanmu karena aku yang terlalu kekanak-kanakan dan egois? Lalu
sekarang siapa yang egois dan berhati sadis? Siapa yang berani-beraninya
mengakhiri dan membunuh janji,angan,dan impian kita selama delapan bulan lamanya.
Delapan bulan waktu yang sudah kuhabiskan bersamamu dan untuk mencintaimu
bukanlah waktu yang sebentar, sakitku saat itu hanya kubisa balut dengan tawa
renyah dan senyumku, namun tawa itu tidak bisa serenyah dulu saat aku
bersamamu. Awalnya, tiga bulan setelah kepergianmu, rasaku masih tetap sama,
entah aku tidak ingin sekali membuka hati untuk sosok yang baru, ya karena saat
itu hanya kamu yang bisa mematikan hati
ku ini. Aku hanya berhenti berjuang,bukan berarti aku berhenti mencintaimu.
Tapi aku harus sadar, bahwa aku harus memikirkan masa depanku, aku tidak bisa terus
menerus bercermin ke belakang, aku selalu berusaha untuk bangkit dan
membangunkan hatiku, nampaknya selalu saja nihil.
Malam itu, setelah aku selesai melewati masa orientasi siswa di
sekolah baruku, aku sempatkan untuk membuka laptopku, hanya sekedar untuk
refreshing mencari hiburan. Saat aku baru login akun facebookku, yang akhir
pekan ini belum sempat kubuka karena kesibukanku mengikuti masa orientasi
siswa. Yang pertama kali keluar di layar beranda akunku, iyalah akunmu, aku
tidak menyangka dan sangat terkejut untuk melihatnya, namun nampaknya hati ini
sudah ikhlas menerimanya, kamu mengganti status lajangmu dengan berpacaran,
entah dengan wanita yang tidak pernah ku kenali sebelumnya, mungkin itu teman
sekolah barumu. Iya aku tau kamu pria yang mudah untuk mengikat hati wanita,
termasuk aku dulu yang pernah jatuh ke dalam jebakanmu. Mungkin yang ada di
akunmu yang sekian kalinya setelah putus denganku. Setelah aku tau statusmu
sekarang, aku semakin ingin bangkit dan meninggalkan lembaran masa laluku.
Aku kira cinta sejati itu berhenti di kamu, tapi ternyata
masih ada kamu selanjutnya. Aku sudah tak lagi bersamamu, tak lagi menemani
hari-harimu, berhenti menjadi bagian dari hidupmu,tapi aku tidak pernah
berhenti mencintaimu aku hanya berhenti memperjuangkanmu. Entah sudah
berapa banyak pria yang datang dan pergi menawarkan cintanya semenjak tak lagi
bersamamu, mereka selalu bilang “Aku tidak akan menyakitimu seperti dia,aku
janji” tapi hati ini enggan sekali membuka hati untuk yang lain, sudah aku
kunci hatiku ini hanya untukmu sejak berbulan-bulan lamanya. Aku masih ingin
menikmati kesendirianku, mereka pria yang datang aku yakin mereka datang hanya
untuk pergi, mungkin itu perasaan sesaat bukan;cinta. Sampai detik ini aku
selalu ingin tau kabarmu, entah ini sudah detik keberapa aku mengingat dan
merindukanmu, walaupun kita(aku dan kamu) sudah benar-benar lepas.
Yang aku ceritakan di atas adalah masa laluku, kertas usang
yang telah kubuang tujuh bulan yang lalu, setelah aku menemukan penggantimu
semua cerita dan kisahku berbeda. Hari dimana aku bertemu dengan sosok baru,
aku masih ingat sekali sore itu. Aku bertemu dengannya di taman kota, di saat aku bersama teman sedang
mencari udara segar di taman kota, saat itu aku melihat sosok pria yang sedang
bercengkrama dengan laptopnya sambil memasang headphone di telinganya. Kamu
melihatku dengan tatapan yang berbeda, dari arah yang berbeda, dari jauh kau
menatapku lalu memberi senyuman berbeda, tanpa pikir panjang lalu aku membalas
senyumanmu. Tidak lama kemudian, kau datang menghampiriku lalu mengajakku
berkenalan. “Hai,siapa namamu?” katanya sambil menyodorkan tangannya. Aku
sangat gugup untuk menjawabnya, dengan tangan gemetar aku menjawab “Namaku
Giska, namamu siapa?”, lalu dia menjawab dengan mata indahnya “Namaku Eza,
rumahmu dimana?” katanya. “Rumahku tidak jauh dari taman ini kok”. Aku tidak
mengerti, dia langsung meminta nomer hpku, awalnya aku tidak ingin memberi,
namun dia memaksanya, lalu aku mengetik nomerku di ponselnya. Setelah itu, dia
langsung bergegas pergi mengucapkan terimakasih sambil melambaikan tangannya.
Aku hanya membalas dengan senyuman.
Dua jam kemudian setelah aku sudah berada di rumah, dia
menelfonku. Sejak perkenalan singkat sore itu, kamu lebih sering mengirim pesan
singkat untukku, kita juga lebih sering menceritakan dunia kita, entah lewat
telfon,blackberry messanger, atau bertemu di taman.
Aku benar-benar mengenal sosok yang baru, sosok yang berbeda,
sosok yang misterius, aku yakin kamu adalah orang baik, walaupun aku baru
mengenalmu, namun hati ini berkata kamu adalah orang yang tepat menjadi
temanku.
Setelah perkenalan kita selama dua minggu, pagi itu kau
mengajakku lari pagi ke taman kota, tidak seperti biasanya kau mengajakku lari
pagi. Setelah dua kali keliling lapangan dekat taman, aku merasa kelelahan dan
kembali duduk di taman, lalu kamu membelikanku minuman. Tibatiba kamu
menanyakan.
“Gis,apakah kamu pernah jatuh cinta?”kata eza.
”Iya aku pernah jatuh cinta, kalau kamu?memangnya kenapa?”
kataku.
“Jatuh cinta menurutmu
rasanya gimana? Iya aku juga pernah.” Jawabnya.
“menurutku jatuh cinta
itu indah, jika kita jatuh cinta pada orang yang mencintai kita juga, menurutmu
bagaimana?” kataku.
“Menurutku jatuh cinta
itu abstrak” kata eza
“loh memangnya kenapa?” kataku
“aku pernah jatuh cinta pada seseorang, namun saat aku sudah
mulai dekat dia malah pergi bersama orang lain.” Kata eza
“lalu kamu trauma untuk jatuh cinta lagi?” kata ku
“awalnya iya, tapi setelah aku mengenalmu, rasa trauma itu
nampak meghilang seketika.” Kata eza
“maksudmu za?” aku kebingungan.
“sejak pertama kali aku melihatmu di taman kota dua minggu
yang lalu, aku berbeda melihatmu, kau member ikesan yang berbeda di tatapan
kelopak mataku, aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi.” Kata eza
“aku masih belum mengerti dengan pembicaraanmu tadi” kataku
sambil menatapnya
“aku suka kamu,aku ingin jadi bagian dari hari-harimu gis,
aku ingin menjadi kekasihmu, apakah kamu bersedia?” kata eza
Aku sangat terkejut mendengar lisan Eza seperti itu, Oh Tuhan
jawaban yang harus aku lontarkan, aku bingung ingin menjawab apa, walaupun
sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama. Eza datang di waktu yang
tepat, di saat hatiku sedang benar-benar kosong. Aku memberi jawaban saat itu
juga. Aku mengatakakan “Iya,aku mau jadi kekasihmu”. Akhirnya aku mulai
semuanya dari hari itu hingga saat ini.
Aku menjalani hubunganku dengannya nampak sangat manis dan
nyaman sekali, Aku seperti hidup kembali, terimakasih sudah membangunkan
semangat hidupku lagi, sudah membangkitkan aku dari masalaluku. Aku benar-benar
sudah bangkit dan enggan untuk mengingat masa laluku lagi. Terimakasih untuk
kamu, sejak ada kamu duniaku sudah tidak gelap lagi, duniaku berwarna lagi dan sejak
ada kamu aku seolah dibangunkan dari keterpurukan dan kejeraanku dalam
bercinta. Karena kamu juga senyumku kembali, ceriaku kembali.
Sekarang kita sedang jalan tujuh bulan, aku tak pernah lagi
mengingat masa laluku, karena kamu telah menyembuhkan luka dan kesepianku. Aku
benar-benar memiliki rasa yang tulus untukmu, dan rasanya aku tidak ingin
dihentakan lagi. Kau benar-benar pria yang baik hati, dewasa, dan pengertian.
Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu,aku harap kamu tidak akan seperti
dia.
Kau selalu mengerti kesibukanku di sekolah, kau juga selalu
menyempatkan memberiku kabar di celah kesibukanmu di sekolah yang sangat padat,
kita selalu contact setiap harinya, itu juga alasan kenapa kita bisa bertahan
hingga saat ini.
Malam setelah aku selesai mengerjakan PR,sambil mendengarkan
lagu Fatin-Aku memilih setia, ada notif dari blackberry messangerku, setelah
aku buka, yang tak lain adalah dari pria pengkhianat itu, dia menginviteku d
bbm, setelah dia mendelcontku beberapa bulan lamanya. Aku bingung ingin
mengaccpetnya atau mengabaikannya, namun tanganku menuntunku untuk memencet
accept. Aku berfikir untuk apa dia datang lagi, padahal sudah sebelas bulan aku
tidak ingin mendengar tentang dia lagi. Dia mengirim pesan blackberry messanger
dan mengatakan bahwa dia rindu padaku. “ah dasar laki-laki bodoh.” Aku
menggerutu. Rupanya dia tidak tau statusku sekarang atau dia pura-pura tidak
tau.
Sudah sebelas bulan yang lalu, namun nampaknya aku masih
belum bisa melupakan sakit yang aku rasakan malam itu, aku tak ingin dia
kembali, karena yang aku rasakan aku ingin bahagia dengan kekasihku.
“Untuk apa kamu datang?” tanyaku
“aku ingin menjelaskan semuanya” katanya
“Tidak ada yang perlu dibahas, sudah lupakan saja!” jawabku
dengan jelas
“Untuk apa kamu datang lagi sekarang setelah aku sudah
bersama orang lain, kemana larinya kamu sebelas bulan yang lalu?” Aku sangat
kesal dengan pernyatannya itu. Dia datang di saat aku sudah bersusah payah
untuk bangkit, bangkit dari segala keterpurukanku. Dia memang menyebalkan, aku
tidak ingin kehadirannya lagi, di saat aku sudah memiliki kebahagiaan baru
bersama Eza. Aku mencoba terus menolak dan tidak meperdulikan mulut manisnya.
Namun dia selalu saja meminta maaf dan menjelaskan mengapa dia dulu meninggalkanku.
Untuk apa? Kenapa baru sekarang kamu datang? Aku tidak ingin kamu menjadi duri
dalam kebahagiaanku sekarang, sudah cukup dulu kau mencibirku. Dulu kau membuat
hidupku gelap, dan sekarang kamu seenaknya datang di saat hidupku sudah
berwarna bersama orang lain. Aku ingin kamu pergi, aku tidak ingin jatuh ke
dalam jurang yang sama. Aku mencintai kekasihku, aku bahagia bersama kekasihku,
aku sudah menutup lembaranku bersamamu tujuh bulan yang lalu. Tepatnya hari
ini, aku menginjak bulan ke tujuh dengannya. Maaf, aku sudah bangkit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar